Senin, 02 Mei 2011

☺ TELEVISION IS YOUR PARTNER ☺ - Oleh : Dr. Iswandi Syahputra, M.Si


Revolution Of Technology
·         Transportation


·         Communication

·         Information


Jumlah stasiun TV Swasta Lokal di Indonesia*
          Jumlah stasiun TV lokal  yang telah bersiaran 119.
          105 diantaranya adalah stasiun TV lokal yang telah mendapat IPP Prinsip.
          Sedangkan 14 lainnya adalah Stasiun TV lokal yang telah mendapat IPP Existing.
          Jumlah pemohon TV swasta sampai Juli 2010 adalah 93 Pemohon yang tersebar hampir di seluruh provinsi di Indonesia.
*Data sampai awal Juni 2010

10 Stasiun TV Swasta yang Bersiaran Nasional (berjaringan)
1.  RCTI
2.  SCTV
3.  TPI
4.  ANTV
5.  Trans TV
6.  Trans 7
7.  Metro TV
8.  Global TV
9.  TV One
10. Indosiar

Peringkat Stasiun Televisi yang Bersiaran Nasional*
Berdasarkan Iklan:
1.   RCTI
2.   SCTV
3.   GLOBAL TV
4.   TRANS TV
5.   TPI/MNC
6.   TRANS 7
7.   ANTV
8.   INDOSIAR
9.   TV ONE
10. METRO TV

Berdasarkan Program :
1.  RCTI
2.  TRANS TV
3.  SCTV
4.  TPI
5.  INDOSIAR
6.  TRANS 7
7.  ANTV
8.  GLOBAL TV
9.  TV ONE
10. METRO TV

          Data tersebut belum termasuk jumlah lembaga penyiaran berlangganan yang menyajikan berbagai program dari stasiun televisi asing yang jumlahnya ratusan.
          Tidak bisa tidak, saat ini kehidupan kita bukan saja dikepung oleh televisi, tetapi dipengaruhi dan ditentukan oleh televisi.
          Televisi seperti anggota keluarga yang eksis tapi tidak tercatat dalam kartu keluarga.

Pertumbuhan stasiun TV sangat pesat karena secara umum saat ini dunia berada dalam era teknologi informasi/komunikasi. Secara khusus, di Indonesia hal itu terjadi karena ;
          Pasar penonton yang menjanjikan
          Cakupan wilayah yang luas
          Maraknya pertumbuhan PH (250-an)
          Pola menonton masyarakat yang tidak sehat (Heavy Viewer)
Kondisi ini menimbulkan persaingan yang juga tidak sehat antara stasiun televisi.

Persaingan Tidak Sehat Industri Televisi
          Rating menjadi rujukan utama produksi program televisi. Implikasinya adalah, isi (program) tayangan televisi yang nyaris seragam.
          Terpusatnya kepemilikan stasiun televisi. Implikasinya adalah, televisi menjadi alat penopang kekuasaan ekonomi/politik.
Dalam konteks ini maka RATING dan AGENDA SETTING menjadi terma kunci dalam studi ekonomi/politik media televisi.

Tentang RATING
·         Rating adalah evaluasi atau penilaian atas sesuatu. Rating merupakan data kepemirsaan televisi. Data merupakan hasil pengukuran secara kuantitatif. Jadi rating bisa dikatakan sebagai rata-rata pemirsa pada suatu program tertentu yang dinyatakan sebagai persentase dari kelompok sampel atau potensi total.
·         Pengertian yang lebih mudah, rating adalah jumlah orang yang menonton suatu program televisi terhadap populasi televisi yang di persentasekan.
·         Data kepemirsaan TV itu dihasilkan berdasarkan survei kepemirsaan TV (TV Audience Measurement/ TAM). Di Indonesia survei kepemirsaan televisi kini diselenggarakan oleh AGB Nielsen Media Research (AGB NMR).

Cara Kerja RATING
Pengoperasian dan prosedur standar survei kepemirsaan TV yang mengacu pada GGTAM harus melalui tujuh proses pokok, yaitu:
1. TV Establishment Survey, menentukan populasi keluarga yang memiliki TV di 10 kota besar.
2. Pemilihan Panel, setiap panel memiliki karakteristik berbeda.
3. Metering Equipment (TVM-5): pemasangan di rumah tangga panel.
4. Pengumpulan Data, data dikumpulkan melalui 2 cara, on line dan off line polling.
5. The Production (Pollux System), pemerosesan data.
6. TV Monitoring, data digabung dengan data monitoring program TV dan iklan.
7. Pengiriman Data (via Arianna), merupakan software yang harus dimiliki pelanggan. Dapat diakses setiap jam 10 pagi.

Beberapa Penelitian tentang Rating
Semua tayangan yang mendapat rating tinggi belum tentu memiliki kualitas tinggi menurut pemirsa (hasil penelitian Program Studi Televisi IKJ, 2006). Sebaliknya, tidak semua tayangan yang kualitas tinggi memiliki rating yang tinggi, (hasil penelitian Yayasan SET, 2007)

Contoh tayangan dengan rating tinggi tapi
kualitas rendah ;
          Putri yang di Tukar (RCTI)
          Uya Emang Kuya (SCTV)

          OVJ (Trans 7)
Contoh tayangan dengan kualitas tinggi tapi
rating rendah ;
          Kick Andy (Metro TV)
          Oasis (Metro TV)
          Dunia Binatang (Trans 7) 



McCombs dan Shaw (1972) menguji dasar teori  Agenda Setting Media :
          Media massa mempengaruhi penilaian pemilih mengenai apa yang mereka pikir isu utama suatu kampanye Presiden di AS.
          Friming berita dan agenda setting dapat menentukan pilihan khalayak dalam pemilu Presiden di AS.
          Skema agenda setting media menjelaskan, melalui teknik friming, media massa dapat menciptakan dan menentukan berbagai agenda publik. Kebutuhan tersebut seakan-akan harus segera dipenuhi oleh negara (pemerintah).
          Agenda media bermorfosis menjadi agenda publik. Pada titik ini, agenda media memiliki kekuatan membentuk opini publik.
          Opini publik memiliki kekuatan mendorong (mendesak) negara/pemerintah sebagai policy maker.
          Kasus Prita Mulya Sari vs RS Omni International atau penahanan Bibit/Chandra membuktikan kekuatan agenda setting media.
Benarkah agenda media adalah agenda publik?
Suara media adalah suara publik?
Belum tentu, sebab berita dan informasi media adalah komoditas dalam industri media.

Kritik Terhadap Agenda Setting
Menurut Gene Burd, terdapat beberapa catatan penting buat penelitian agenda setting selama ini, yaitu ;
·         Terlalu terpusat pada media massa.
·         Terlalu banyak mendasarkan pada model garipertemuan produksi dan pembentuk pendapat publik.
·          Menggunakan media massa sebagai mesin pendidikan raksasa yang efektif untuk  mensosialisasikan pada publik untuk menerima kebijakan yang dibuat oleh jurnalis.
·         Menganggap publik sebagi individu atomistik  (homogen, masyarakat massa).
·           Komunikasi dilihat sebagai transmisi .

‘5 S’ Bahaya Televisi
          Sara
          Saru (Seks/pornografi)
          Sadis (Kekerasan)
          Sihir (Mistik)
          Sedih
Di antara bahaya tersebut, tayangan Sadis dan Saru yang paling mendominasi Televisi. Pada tahun 1999 s/d 2005 tayangan mistik yang paling mendominasi.

Apa Kabar KPI?
          KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen mengatur hal-hal mengenai penyiaran (Pasal 7 UU 32/2002).
            Faktanya, KPI hanya mengurusi isi siaran.
          KPI memiliki kewenangan menjatuhkan sanksi (Pasal 55 UU 32/2002) berupa :
        teguran tertulis;
        penghentian sementara
        pembatasan durasi dan waktu siaran;
        denda administratif;
        pembekuan kegiatan siaran untuk waktu tertentu;
        tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran;
        pencabutan izin penyelenggaraan penyiaran.
            Faktanya : Tidak semua sanksi bisa diterapkan.





UPAYA KPI
  Sosialisasi P3/SPS bagi pelaku industri televisi.
  Monitoring real time terhadap seluruh televisi siaran nasional selama 15 jam.
  Menjatuhkan sanksi bagi televisi yang melakukan pelanggaran (hingga tetes keringat teriakhir).
  Melakukan gerakan masyarakat melalui media literasi.
  Melakukan survey apresiasi khalayak terhadap program televisi.

KESIMPULAN 
      Saat ini televisi merupakan media yang sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Banyak sekali orang-orang yang menikmati adanya tayangan televisi. Televisi dapat memberikan manfaat bagi kita misalnya untuk mencari informasi, menambah pengetahuan, dll. Jika kita tidak menggunakan televisi dengan baik maka kita akan dapat terpengaruh dari adanya efek menonton televisi misalnya tayangan kekerasan.  Oleh sebab itu kita harus dengan cerdas memilih tayangan yang bermanfaat bagi kita untuk memperoleh wawasan atau pengetahuan. Terkadang orang terhipnotis dengan adanya tayangan yang memiliki sisi negatif tetapi mereka menganggap tayangan tersebut menarik. jadi kita harus memilih tayangan televisi yang bermanfaat.

SUMBER 

Minggu, 24 April 2011

☺ Pemasaran Politik ☺- Oleh : Eko Harry Susanto

Pasti kita semua sering mendengar kata politik dalam kehidupan kita, pengertian dari politik itu sendiri adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara. Namun, ternyata dunia pemasaran politik memberikan peluang yang menggiurkan bagi para insan komunikasi untuk turut berkarya tanpa terlibat langsung dalam aktivitas politik yang sebenarnya.
Para insan komunikasi kerap kali hanya terlibat pada berbagai bidang profesi yang menyangkut pada perusahaan atau lembaga umum lainnya yang memang secara keseharian mengurus kebutuhan komunikasi (pencitraan,brand & positioning, membangun hubungan positif, dan lainnya). Tetapi ternyata dunia politik juga membawa peluang bagi para insan komunikasi untuk turut menorehkan karya di dalam aktivitas politik para elite di negeri ini. Menilik pada perkembangan era demokratisasi komunikasi mendorong para insan komunikasi semakin aktif turun tangan dan bekerja di balik aktivitas para elite politik. Pemasaran politik merupakan :
·         Aktivitas integratif dalam mengorganisir pesan politik kepada khalayak
·         Membangun pencitraan yang positif dan mengemas berbagai nilai yang melekat pada sosok/pribadi tokoh atau partai politik agar didapatkan pemahaman, penerimaan, dan dukungan dari publik.
Aktivitas pemasaran politik memang berbasis pada kegiatan pemasaran dan komunikasi, meliputi publikasi, kampanye, dan promosi melalui berbagai media seperti iklan, spanduk, baliho, dan media lainnya. Tujuan pemasaran politik adalah berusaha menjadikan seorang sosok/tokoh politik memiliki citra yang positif sehingga masyarakat mengenal, memahami, mendukung, dan bahkan menerima sosok tersebut dan segala proses penerimaan ini dengan meningkatnya elektabilitas (peluang keterpilihan).

Perbedaan pencitraan dalam pemasaran politik didasarkan pada karakter yang ingin lebih dipublikasikan dari sosok politisi, isi pesan, dan tujuan yang ingin dicapai dari pemasaran politik. Dengan memahami unsur pemasaran politik ini maka akan dapat mengimplementasikan pemasaran politik yang efektif. Saat ini juga aktivitas politik termasuk pemasaran politik sudah mengalami komodifikasi. Di mana segala aktivitas yang berkenaan dengan ranah politik sudah pasti berlabel komersialisasi. Apalagi bila menyangkut pada pencitraan dan demi tercapainya tujuan dan kepentingan para sosokelite politik, maka akan ada nilai komersialisasi di dalamnya.


Ada 7 strategi pemasaran politik yang efektif adalah :
1.    Menciptakan kreativitas pada pesan.
Pesan harus menampilkan sesuatu yang kreatif (melalui jargon).
2.    Pesan sebaiknya sederhana.
Pesan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
3.    Gagasan yang dipublikasikan memiliki diferensiasi.
Menggunakan konsep dan gagasan yang unik dan berbeda dari yang lain.
4.    Pesan efektif dan efisien.
Pesan menanamkan pemahaman yang sesuai dan tepat sasaran.
5.    Bekerja dengan hati.
Melayani para klien yang merupakan sosok yang dibantu pencitraannya dengan sepenuh hati, penuh integritas, dan bebas nilai.
6.    Mendegarkan tuntutan konstituen.
Mengeksploarasi ide politik harus berpijak pada kebutuhan rakyat sehingga dapat merepresentasikannya ke dalam pesan pemasaran politik.
7.    Membangun hubungan.
Sebaik mungkin membangun hubungan dengan berbagai pihak.

Jadi, untuk melakukan sebuah pemasaran politik juga adalah sebuah hal yang tidak mudah. Dibutuhkan sebuah riset dan konsep yang matang apalagi ranah politik bergerak dinamis di tengah kebebasan komunikasi saat ini. Semua perlu dilakukan dengan pemilihan berbagai unsur yang sesuai dan dapat diterima dengan positif di masyarakat. Sebaiknya pemasaran komunikasi yang efektif dapat memicu dorongan dan simpati masyarakat bukan malah sebaliknya menjadi antipati (kontraproduktif).
Kini semakin terbuka pemahaman kita mengenai dunia politik yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan pemasaran politik. Karena memang pemasaran politik adalah lahan yang tepat bagihttp://www.google.co.id/ representasi karya para insan komunikasi dalam menjembatani sekaligus mengakomodir tercapainya kepentingan dan tujuan para elite politik di negeri ini.
Semua aktivitas yang terintegrasi ini dilakukan oleh para insan komunikasi secara profesional, penuh integritas, dan bebas nilai berdasarkan etika beserta nilai komunikasi dan budaya yang ada di negeri ini. Semoga bahasan ini dapat membuka pandangan para insan komunikasi untuk tidak lagi 'alergi' pada dunia politik yang ternyata memberi peluang bisnis melalui pemasaran politik.

SUMBER 
Gambar dari : http://www.google.co.id/
Ringkasan Perkuliahn dari Bapak Dr. Eko Harry Susanto.M.Si

Minggu, 03 April 2011

☺PSIKOLOGI KOMUNIKASI MASSA ☺- Oleh : Dra. Henny.E. Wirawan M. Hum, Psi

DEFINISI KOMUNIKASI MASSA


Massa (mass) atau crowd :
  • Suatu bentuk kumpulan (collection) dari individu.
  • Tidak melakukan interaksi.
  • Tidak terdapat struktur.
  • Pada umumnya terdapat orang dalam jumlah banyak dan berlangsung lama.

 Massa menurut Gustave Le Bon (Pelopor Psikologi Massa) :
  • Suatu kumpulan orang banyak berjumlah ratusan bahkan ribuan yang berkumpul dan mengadakan hubungan untuk sementara waktu dan kepentingan yang sementara pula.Contoh : Orang yang menonton sepakbola dan sebagainya.

Massa menurut Mennicke (1948) :  Massa abstrak dan massa konkret.
  • Massa abstrak adalah sekumpulan orang yang didorong oleh persamaan minat, persamaan perhatian, persamaan kepentingan, persamaan tujuan, tidak adanya struktur yang jelas atau tidak terorganisir.
  • Massa konkret adalah massa yang memiliki ciri :
  • A. Adanya ikatan batin, ini disebabkan adanya persamaan kehendak, persamaan tujuan, dan persamaan ide.
  • B. Adanya persamaan norma, ini disebabkan memiliki peraturan sendiri, dan kebiasaan sendiri.
  • C. Mempunyai struktur yang jelas.
Massa menurut Park dan Burgess : Massa aktif (mob) dan massa pasif (audience). Dalam mobtelah ada tindakan-tindakan kekerasan nyata. Misalnya, perkelahian massal, tawuran, dan demonstrasi.

Neil Smelser berpendapat, ada 6 kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, yaitu:
  • Struktur yang kondusif memunculkan perilaku kolektif.
  • Adanya ketegangan yang secara struktural terjadi dalam masyarakat.
  • Adanya kepercayaan atau keyakinan bersama yang mendorong masyarakat melakukan tindakan bersama.
  • Adanya peristiwa sebagai faktor pemicu perilaku kolektif.
  • Adanya mobilisasi massa, dalam hal ini perilaku kolektif berarti digerakkan oleh pihak lain diluar massa atau yang memimpin massa.
  • Adanya kegagalan kontrol sosial sehingga massa melakukan perlawanan terhadap aturan yang baku.
Psikologi Massa adalah proses mental dan perilaku kolektif yang ditujukan kepada gerakan-gerakan perubahan sosial, bukan yang bersifat isidental dan aksidental. Aktor utama dalam psikologi massa, yaitu bertindak sebagai inisiator dan bukan aktor tunggal yang bekerja sendiri di dalam gerakan sosial.

KERUMUNAN
Karakteristik utama, yaitu :
  • Kumpulan orang banyak secara fisik.
  • Mudah sekali bereaksi.
  • Mudah meniru tingkah laku orang lain dan tingkah laku tadi mudah sekali mendapat dorongan dari semuanya.

BENTUK UMUM KERUMUNAN
Kerumunan yang beratikulasi dengan struktur sosial, yaitu :
  • Khalayak penonton atau pendengar yang formal; pusat perhatian dan tujuan sama; tetapi sifatnya pasif.
  • Kelompok ekspresif yang telah direncanakan; fungsinya sebagai penyalur ketegangan karena pekerjaan sehari-hari.
Kerumunan yang bersifat sementara, yaitu :
  • Kumpulan orang yang kurang menyenangkan.
  • Kumpulan orang yang sedang panik.
  • Kerumunan penonton karena melihat suatu kejadian.

PUBLIK
Interaksi yang terjadi secara tidak langsung. Setiap aksi diprakarsai oleh individu itu sendiri. Cara menarik simpati publik dengan menggandeng nilai-nilai sosial.


SUMBER 
Ringkasan Perkuliahan dari Ibu Dra. Henny. E. Wirawan
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://kafeilmu.com/tema/makalah-psikologi-komunikasi-massa.html 

Gambar dari : http://www.google.co.id/