Minggu, 24 April 2011

☺ Pemasaran Politik ☺- Oleh : Eko Harry Susanto

Pasti kita semua sering mendengar kata politik dalam kehidupan kita, pengertian dari politik itu sendiri adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam yang antara lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara. Namun, ternyata dunia pemasaran politik memberikan peluang yang menggiurkan bagi para insan komunikasi untuk turut berkarya tanpa terlibat langsung dalam aktivitas politik yang sebenarnya.
Para insan komunikasi kerap kali hanya terlibat pada berbagai bidang profesi yang menyangkut pada perusahaan atau lembaga umum lainnya yang memang secara keseharian mengurus kebutuhan komunikasi (pencitraan,brand & positioning, membangun hubungan positif, dan lainnya). Tetapi ternyata dunia politik juga membawa peluang bagi para insan komunikasi untuk turut menorehkan karya di dalam aktivitas politik para elite di negeri ini. Menilik pada perkembangan era demokratisasi komunikasi mendorong para insan komunikasi semakin aktif turun tangan dan bekerja di balik aktivitas para elite politik. Pemasaran politik merupakan :
·         Aktivitas integratif dalam mengorganisir pesan politik kepada khalayak
·         Membangun pencitraan yang positif dan mengemas berbagai nilai yang melekat pada sosok/pribadi tokoh atau partai politik agar didapatkan pemahaman, penerimaan, dan dukungan dari publik.
Aktivitas pemasaran politik memang berbasis pada kegiatan pemasaran dan komunikasi, meliputi publikasi, kampanye, dan promosi melalui berbagai media seperti iklan, spanduk, baliho, dan media lainnya. Tujuan pemasaran politik adalah berusaha menjadikan seorang sosok/tokoh politik memiliki citra yang positif sehingga masyarakat mengenal, memahami, mendukung, dan bahkan menerima sosok tersebut dan segala proses penerimaan ini dengan meningkatnya elektabilitas (peluang keterpilihan).

Perbedaan pencitraan dalam pemasaran politik didasarkan pada karakter yang ingin lebih dipublikasikan dari sosok politisi, isi pesan, dan tujuan yang ingin dicapai dari pemasaran politik. Dengan memahami unsur pemasaran politik ini maka akan dapat mengimplementasikan pemasaran politik yang efektif. Saat ini juga aktivitas politik termasuk pemasaran politik sudah mengalami komodifikasi. Di mana segala aktivitas yang berkenaan dengan ranah politik sudah pasti berlabel komersialisasi. Apalagi bila menyangkut pada pencitraan dan demi tercapainya tujuan dan kepentingan para sosokelite politik, maka akan ada nilai komersialisasi di dalamnya.


Ada 7 strategi pemasaran politik yang efektif adalah :
1.    Menciptakan kreativitas pada pesan.
Pesan harus menampilkan sesuatu yang kreatif (melalui jargon).
2.    Pesan sebaiknya sederhana.
Pesan menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
3.    Gagasan yang dipublikasikan memiliki diferensiasi.
Menggunakan konsep dan gagasan yang unik dan berbeda dari yang lain.
4.    Pesan efektif dan efisien.
Pesan menanamkan pemahaman yang sesuai dan tepat sasaran.
5.    Bekerja dengan hati.
Melayani para klien yang merupakan sosok yang dibantu pencitraannya dengan sepenuh hati, penuh integritas, dan bebas nilai.
6.    Mendegarkan tuntutan konstituen.
Mengeksploarasi ide politik harus berpijak pada kebutuhan rakyat sehingga dapat merepresentasikannya ke dalam pesan pemasaran politik.
7.    Membangun hubungan.
Sebaik mungkin membangun hubungan dengan berbagai pihak.

Jadi, untuk melakukan sebuah pemasaran politik juga adalah sebuah hal yang tidak mudah. Dibutuhkan sebuah riset dan konsep yang matang apalagi ranah politik bergerak dinamis di tengah kebebasan komunikasi saat ini. Semua perlu dilakukan dengan pemilihan berbagai unsur yang sesuai dan dapat diterima dengan positif di masyarakat. Sebaiknya pemasaran komunikasi yang efektif dapat memicu dorongan dan simpati masyarakat bukan malah sebaliknya menjadi antipati (kontraproduktif).
Kini semakin terbuka pemahaman kita mengenai dunia politik yang dapat dimanfaatkan sebagai peluang untuk melakukan pemasaran politik. Karena memang pemasaran politik adalah lahan yang tepat bagihttp://www.google.co.id/ representasi karya para insan komunikasi dalam menjembatani sekaligus mengakomodir tercapainya kepentingan dan tujuan para elite politik di negeri ini.
Semua aktivitas yang terintegrasi ini dilakukan oleh para insan komunikasi secara profesional, penuh integritas, dan bebas nilai berdasarkan etika beserta nilai komunikasi dan budaya yang ada di negeri ini. Semoga bahasan ini dapat membuka pandangan para insan komunikasi untuk tidak lagi 'alergi' pada dunia politik yang ternyata memberi peluang bisnis melalui pemasaran politik.

SUMBER 
Gambar dari : http://www.google.co.id/
Ringkasan Perkuliahn dari Bapak Dr. Eko Harry Susanto.M.Si

Minggu, 03 April 2011

☺PSIKOLOGI KOMUNIKASI MASSA ☺- Oleh : Dra. Henny.E. Wirawan M. Hum, Psi

DEFINISI KOMUNIKASI MASSA


Massa (mass) atau crowd :
  • Suatu bentuk kumpulan (collection) dari individu.
  • Tidak melakukan interaksi.
  • Tidak terdapat struktur.
  • Pada umumnya terdapat orang dalam jumlah banyak dan berlangsung lama.

 Massa menurut Gustave Le Bon (Pelopor Psikologi Massa) :
  • Suatu kumpulan orang banyak berjumlah ratusan bahkan ribuan yang berkumpul dan mengadakan hubungan untuk sementara waktu dan kepentingan yang sementara pula.Contoh : Orang yang menonton sepakbola dan sebagainya.

Massa menurut Mennicke (1948) :  Massa abstrak dan massa konkret.
  • Massa abstrak adalah sekumpulan orang yang didorong oleh persamaan minat, persamaan perhatian, persamaan kepentingan, persamaan tujuan, tidak adanya struktur yang jelas atau tidak terorganisir.
  • Massa konkret adalah massa yang memiliki ciri :
  • A. Adanya ikatan batin, ini disebabkan adanya persamaan kehendak, persamaan tujuan, dan persamaan ide.
  • B. Adanya persamaan norma, ini disebabkan memiliki peraturan sendiri, dan kebiasaan sendiri.
  • C. Mempunyai struktur yang jelas.
Massa menurut Park dan Burgess : Massa aktif (mob) dan massa pasif (audience). Dalam mobtelah ada tindakan-tindakan kekerasan nyata. Misalnya, perkelahian massal, tawuran, dan demonstrasi.

Neil Smelser berpendapat, ada 6 kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, yaitu:
  • Struktur yang kondusif memunculkan perilaku kolektif.
  • Adanya ketegangan yang secara struktural terjadi dalam masyarakat.
  • Adanya kepercayaan atau keyakinan bersama yang mendorong masyarakat melakukan tindakan bersama.
  • Adanya peristiwa sebagai faktor pemicu perilaku kolektif.
  • Adanya mobilisasi massa, dalam hal ini perilaku kolektif berarti digerakkan oleh pihak lain diluar massa atau yang memimpin massa.
  • Adanya kegagalan kontrol sosial sehingga massa melakukan perlawanan terhadap aturan yang baku.
Psikologi Massa adalah proses mental dan perilaku kolektif yang ditujukan kepada gerakan-gerakan perubahan sosial, bukan yang bersifat isidental dan aksidental. Aktor utama dalam psikologi massa, yaitu bertindak sebagai inisiator dan bukan aktor tunggal yang bekerja sendiri di dalam gerakan sosial.

KERUMUNAN
Karakteristik utama, yaitu :
  • Kumpulan orang banyak secara fisik.
  • Mudah sekali bereaksi.
  • Mudah meniru tingkah laku orang lain dan tingkah laku tadi mudah sekali mendapat dorongan dari semuanya.

BENTUK UMUM KERUMUNAN
Kerumunan yang beratikulasi dengan struktur sosial, yaitu :
  • Khalayak penonton atau pendengar yang formal; pusat perhatian dan tujuan sama; tetapi sifatnya pasif.
  • Kelompok ekspresif yang telah direncanakan; fungsinya sebagai penyalur ketegangan karena pekerjaan sehari-hari.
Kerumunan yang bersifat sementara, yaitu :
  • Kumpulan orang yang kurang menyenangkan.
  • Kumpulan orang yang sedang panik.
  • Kerumunan penonton karena melihat suatu kejadian.

PUBLIK
Interaksi yang terjadi secara tidak langsung. Setiap aksi diprakarsai oleh individu itu sendiri. Cara menarik simpati publik dengan menggandeng nilai-nilai sosial.


SUMBER 
Ringkasan Perkuliahan dari Ibu Dra. Henny. E. Wirawan
http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi
http://kafeilmu.com/tema/makalah-psikologi-komunikasi-massa.html 

Gambar dari : http://www.google.co.id/

Minggu, 27 Maret 2011

IKLAN DAN KEKERASAN SIMBOLIK - Oleh : Endah Murwani

Iklan merupakan suatu tampilan yang akan selalu hadir di dalam kehidupan kita sehari-hari. Iklan selalu beredar di sekeliling kita dan selalu dapat kita temukan dimanapun kita berada. Pada masa kini, iklan digunakan tidak hanya bertujuan untuk menawarkan suatu produk, akan tetapi iklan berusaha membentuk sistem nilai, gaya hidup maupun selera budaya tertentu. Iklan tidak hanya memvisualisasikan kualitas dan atribut dari suatu produk tetapi juga membuat  bagaimana sifat atau ciri produk tersebut memiliki arti sesuatu bagi kita. Dengan kata lain, iklan mencoba mendefinisikan image tertentu ketika orang menggunakan produk tersebut.
Iklan WRP dan L-men keduanya adalah iklan yang bertujuan untuk mengubah pandangan masyarakat bahwa susu tidak membuat gemuk melainkan membuat sehat dan menjadikan badan ideal. Kedua iklan ini mencoba membentuk realitas baru dimana dulu susu hanya dikonsumsi oleh anak-anak dan membuat badan gemuk, tetapi sekarang tidak lagi seperti itu.


IKLAN ADA DIMANA-MANA
·         Iklan ada dimana-mana, seakan mengikuti kemana saja kita pergi sepanjang hari. Di rumah, jalanan pasar, kantor, kampus, sekolah, stasiun, halte bus, bandara.
·         Iklan telah mengepung kita dari berbagai penjuru dan sepanjang waktu, sehingga memungkinkan kita untuk mampu menembus hampir semua celah kehidupan setiap orang.
·          Pengolah iklan seolah tidak akan melewatkan sejengkal tempat dan waktu untuk beriklan.
Iklan di Indonesia lebih memiliki kata-kata yang banyak dibandingkan dengan iklan luar negeri. Karena budaya orang Indonesia yang harus dijelaskan secara terperinci agar mereka mau dan percaya akan produk yang diiklankan. Iklan Ponds mencoba membentuk realitas kulit putih merona. Kata-kata “hanya dalam 7 hari……” sebenarnya tidak diperbolehkan oleh BPOM, namun Ponds mengakalinya dengan menggunakan kata “….nampak putih berseri…”. Dan itu diperbolehkan.

PERGESERAN FUNGSI IKLAN
·         Iklan tidak hanya sekedar bertujuan menawarkan dan mempengaruhi calon konsumen untuk membeli suatu produk. Akan tetapi lebih dari itu, iklan turut berpengaruh dalam membentuk system nilai, gaya hidup maupun selera budaya tertentu.
·         Iklan tidak hanya memvisualisasikan kualitas dan atribut dari produk yang harus dijualnya, tetapi mencoba membuat berguna sesuatu dan ciri produk tersebut mempunyai arti sesuatu bagi kita.
Bukan Hanya Sekedar Mewakili Produknya Tetapi Ada Arti Tertentu Bagi Kita
·         Dalam konteks inilah iklan mendefinisikan image tentang arti tertentu yang diperoleh ketika orang menggunakan produk tersebut.
·          Proses ini oleh Williamson (1978:20) disebut sebagai Using Product is Currency, yaitu menggunakan produk yang diiklankan sebagai uang untuk membeli produk kedua yang secara langsung tidak terbeli, contoh: susu bermanfaat bagi anak bayi, selain manfaatnya kita juga membeli pertumbuhan, kecerdasan dan lain-lain.
·         Pollay membagi fungsi komunikasi iklan menjadi 2:
1. Fungsi informasional, iklan memberitahukan kepada konsumen tentang karakteristik produk.
2. Fungsi transformasional, iklan berusaha untuk mengubah sikap-sikap yang dimiliki oleh konsumen terhadap merek, pola-pola belanja, gaya hidup, teknik-teknik mencapai sukses dan sebagainya.

Iklan Dalam Pemikiran Ilmuwan Sosial: Konteks
·         Baudrillard : iklan adalah bagian dari sebuah fenomena sosial bernama consumer society. Objek dalam iklan tidaklah berdiri sendiri melainkan dibentuk oleh sebuah system tanda (sign system).
·         Analisis Baudrillard berkontribusi dalam mengembangkan analisis mengenai produksi dan reproduksi pesan yang melibatkan peran dari citra (image) pada masyarakat kontemporer.
·         Barthes : menganalisa iklan sebagaimana layaknya seorang ahli linguistik.
·         Barthes : tertarik untuk membongkar makna dari pesan-pesan yang disampaikan lewat image maupun teks dalam media fenomena sosial lainnya. Makna ini dibongkar dengan terlebih dahulu menganalisa tanda-tanda yang merepresentasikan makna, dengan menggunakan semiotic sebagai kerangka analisa, Barthes menyumbangkan pemikiran mengenai peran media dalam reproduksi pesan-pesan ideologis.
Iklan itu membentuk suatu hyper realitas, realitas yang melebih-lebihkan. Beda Baudrillard dengan Barthes adalah, Baudrillard bagaimana iklan menggambarkan suatu citra, sedangkan Barthes r, tanda-tanda dalam iklan dianalisis dengan semiotik.

Bagaimana para ilmuwan memahami iklan?
·         Baudrillard : iklan dibentuk dari sign system yang mengatur makna dari objek / komoditas. Iklan juga dipandang sebagai perangkat ideologis dari kapitalisme konsumen (consumer capitalism).
·         Barthes : iklan juga dilihat sebagai signs yang mengatur makna yang ingin disampaikan oleh pembuat iklan. Makna ideologis yang dimiliki iklan dibuat senetral mungkin, proses signifikasi (pembuatan tanda/sign) yang kemudian disebut Barthes sebagai myth (mitosnya seperti apa, contoh maskulin seperti apa? Putih seperti apa).

Bagaimana iklan memproduksi pesan?
·         Baudrillard : iklan sebagai wacana yang dikodekan (coded discourse) dan melekat pada sebuah produk tidak memiliki hubungan dengan realitas (hyperreal).
·         Barthes : menganggap bahwa tanda masih bisa merepresentasikan system realitas (signifikasi tingkat I / denotasi). Sedangkan pada signifikasi tingkat kedua (konotasi), tanda bisa merepresentasikan sesuatu yang hanya bisa dipahami lewat situasi cultural/sosial yang sama.
·         Sementara sebagai sebuah myth, signs dalam iklan dianggap merepresentasikan pesan ideologis dari si pembuat iklan (dalam konteks ini adalah kaum borjuis).

Bagaimana pesan diterima khalayak?
·         Baudrillard menegaskan bahwa melalui kode-kode dalam sebuah pesan manusia sadar akan dirinya dan kebutuhan-kebutuhannya. Kode tersebut secara hirarkis memiliki tingkatan yang digunakan untuk menandakan perbedaan-perbedaan (distinction) dari status dan kelas. Contoh : mobil espas, dapat kita jadikan lelucon dari eksekutif pas-pasan, namun sekarang sudah tidak lagi banyak yang menggunakan espas melainkan lebih memilih Avanza, bahkan BMW untuk menunjukkan status sosial lebih tinggi.
·         Barthes berpendapat bahwa iklan memiliki berbagai makna sesuai dengan tingkat signifikasi yang dilakukan oleh khalayak. Dengan demikian makna dari pesan yang disampaikan oleh iklan menjadi sangat majemuk.

Memahami iklan dengan konsep kekerasan simbolik Bourdieu
·         Bagi Bourdieu, seluruh tingkatan pedagogis (tindakan) baik itu yang diselenggarakan di rumah, sekolah, modia atau dimanapun memiliki muatan kekerasan simbolik selama pelaku memiliki kuasa dalam menentukan system nilai atas pelaku lainnya, sebuah kekasaan yang berakar pada relasi kuasa antara kelas-kelas dan atau kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat. Contoh: tanpa sadar kita menerima apa yang dikatakan oleh orang tua, guru, teman dan bahkan media (iklan).
·         Diasumsikan bahwa media dan iklan merupakan sarana yang digunakan untuk melakukan tindakan pedagogis dari kelas/kelompok sosial tertentu.
·         Arena iklan tidak hanya menjadi ajang konsentrasi image simbolik produk yang ingin dipasarkan namun juga image simbolik realitas sosial secara luas.
·         Iklan menjadi sebuah mesin kekerasan simbolik yang bisa menciptakan system kategorisasi, klasifikasi, dan definisi sosial tertentu sesuai kepentingan kelas/kelompok dominan.
·          Image-image simbolik yang diproduksi iklan seperti misalnya kebohongan, keharmonisan, kecantikan, kejantanan, gaya hidup modern pada dasarnya merupakan system nilai yang dimiliki kelas satu atau kelompok dominan yang diedukasi dan ditanamkan pada suatu kelompok masyarakat tertentu.
·         Proses penanaman nilai melalui iklan dapat membentuk habitus tentang system nilai tersebut. Sehingga iklan tidak hanya menciptakan subjek yang dapat meregulasi diri terkait konsumsi produk namun juga subjek yang dapat merugalasi diri terkait klasifikasi dunia social, disini kemudian terjadilah kekerasan simbolik.
·         Image-image yang diproduksi iklan adalah tindakan pedagogis yang dapat memaksakan secara halus nilai-nilai, standar-standar dan selera kebudayaan kepada masyarakat atau sekurang-kurangnya memantapkan preferensi kebudayaan mereka sebagai standar dari apa yang dianggap tertinggi, terbaik dan paling abash. Dominasi kelas terjadi tatkala pengetahuan, gaya hidup selera, penilain, estetika dan tata cara social dari kelas yang dominan menjadi abash dan dominan secara sosial.

KESIMPULAN :
Televisi dikatakan banyak kalangan sebagai media komunikasi yang paling besar pengaruhnya terhadap perubahan social karena kemampuan audiovisual yang ada pada televisi adalah kekuatan yang luar biasa jika dibandingkan dengan media komunikasi yang lainnya. Sehingga manakala iklan menggunakan televisi sebagai etalase dan jendela untuk menjual produk industri, maka semua kemampuan televisi dieksploitasi untuk kepentingan kapitalis. Dan tanpa disadari iklan dan televise telah menjadi media yang paling besar andilnya terhadap globalisasi.
Iklan-iklan mengenai kecantikan dan kejantanan seperti yang ditunjukan oleh produk susu WRP dan L-men membentuk pola pikir baru dalam masyarakat. dimana secara tanpa kita sadari kita mengasumsikan bahwa tubuh ideal bagi pria dan wanita adalah yang seperti ditayangkan dalam iklan tersebut. Dan tentunya lewat iklan - iklan ini terdapat kekerasan simbolik dimana masyarakat menerima secara pasif pesan apa yang disampaikan melalui iklan seperti halnya dapa teori komunikasi jarum suntik (jarum Hypodermik



Sabtu, 19 Maret 2011

☺INTERACTIVE COMMUNICATION & CONSUMER BEHAVIOR ☺- Oleh : DR. Chairy


• Decisions, Decisions: Tactical Communication Options 
- The Source of the message 
Celebrity, career woman, etc 
- The message 
Negative consequences, comparison, etc 
- The media 
Print ad, TV, website, etc 
- The target market 
Status oriented, frustrated, etc 

THE ELEMENTS OF COMMUNICATION 

• The message initiator (the source)/the sender 
• The medium 
• The message 
• The target audience (the receivers) 
• Feedback – the receiver’s response 


The Traditional Communications Model
Interactive Communications 

• The traditional communications model doesn’t tell the whole story… 
- Consumers have many choices available and greater control to process messages 
- Permission marketing 
More successful in persuading the consumers who have agreed to let him or her try 
Ex: SMS – REG …… 

Update Communications Model 

• Consumers are now proactive in communications process: VCRs, DVRs, video-on-demand, pay-per-view TV, Caller ID, Internet 

THE SOURCE 

• The source of a message can have a big impact on the likelihood that a message will be accepted 
• Expert, celebrity, or “typical consumers”? 
- Utilitarian products/high performance risk products: vacuums 
- High social risk product: jewelry, furniture 
- Everyday product/low risk product; cookies 
• Two particularly important source characteristic: credibility & attractiveness 

The Source Credibility 

• Source’s perceived expertise, objectivity, or trustworthiness 
• Credibility of informal sources 
Strong – have nothing to gain from the transaction; WOM 
• Credibility of formal sources 
Not-for-profit sources > for-profit sources 

• Credibility of Spokespersons and Endorsers 
- Endorser credibility are important when message comprehension is low 
- Match must exist between product attributes and endorser attributes 
- Credibility is higher when endorser’s demographic characteristic are similar to those of target audience 
- ………..(the person)? 

• Message credibility
 
- The source 
- The reputation of the medium; the retailer 
- Consumer’s previous experience with the product 

• The sleeper effect
 
- The process whereby differences in attitude change between positive and negative sources seem to diminish overtime 
- Both positive and negative credibility effects tend to disappear after a period of time (six weeks) 
- Dissociative cue hypothesis: over the time the source and the message become disassociated in the consumer’s mind; consumers simply forget the source faster than they forget the message 

• Source bias
 
- Knowledge bias: source’s knowledge about a topic is not accurate 
- Reporting bias: a source has the required knowledge but his or her willingness to convey it accurately is compromised (Taufik & Yonex) 
- Britney Spears drinks coca-cola & “drives Honda City”; Jamie Aditya drinks Teh Botol, etc 

• Hype Vs Buzz: The Corporate Paradox 
- Hype: corporate propaganda planted by a company to create product sensation; inauthentic 
- Buzz: word of mouth that is viewed as authentic and generated by customers 
- The corporate paradox: the more involved a company appears to be in the dissemination of news about its products, the less credible it becomes. 

The Source Attractiveness
 

• The source’s perceived social value 
• “What is beautiful is good” stereotype : physical attractiveness 
• Celebrities as communications sources; match-up hypothesis; the drawbacks of celebrity endorsers 
- Madonna & Coca-cola 
• Non human endorsers 
- Cartoon characters and mascots, virtual models 

THE MESSAGE
 

Words or picture? 
• Verbal stimuli affect the utilitarian aspects of a product 
- High involvement situation; more frequent exposure 
• Visual stimuli affect aesthetic evaluations 
• Verbal element are more effective when reinforced by an accompanying picture: increase consumer recall of the verbal information 

Repetition 
• Double-edged sword: awareness Vs habituation 
• Limiting the amount of exposure per repetition (15 second spots) 

One-versus Two-sides messages?
 
• One sided; stress only favorable informations 
• Two sided: both good and bad points are presented 
• Friendly Vs unfriendly/critical audience 

Draw conclusions? 
• Personally relevant message: people will pay attention to it and spontaneously inferences 
• Hard to follow arguments or consumer’s motivation to follow is lacking: draw conclusions 

Comparative advertising? 
• Brand positioning strategis 
• Assist recall of the competitor’s brand? 
Ex: Clorox wipes Vs Windex Wipes, KIA spectra VS Toyota Corolla 


 Order effects? 
• Primacy effect Vs recency effect 
• The first, the last or in between? 

Emotional Vs Rational Appeals 
• The kind of audience (education) 
• The degree of involvement 

Sexual appeals 
• Varies from country to country 
• Must be relevant to the product 



Humorous appeals 
• Low involvement products 
• The audience already has positive attitudes toward the brand 
• Younger, better-educated, upscale, professional tend to be more receptive 

Impact of humor on advertising 
• Humor attracts attention 
• Humor does not harm comprehension 
• Humor is not more effective at increasing persuasion 
• Humor doesn’t enhance source credibility 
• Humor enhance liking 
• Humor that is relevant to the product is superior to humor that is unrelated to the product 
• Audience demographic factors affect the response to humourous advertising appeals 
• The nature of the product affects the appropriateness of humorous treatment 
• Humor is more effective with existing products than with new products 
• Humor is more appropriate for low-involvement product and feeling-oriented products than for high-involvement products. 




Fear appeals 
• Negative relationship between the intensity of fear appeals and their ability to persuade 
• More commonly used in social marketing context 
• Should be examined carefully before they are used. 


Kesimpulan :
Komunikasi yang interaktif menjadi sangat penting dalam dunia bisnis dan periklanan saat ini. Adanya interaksi antara pihak yang mengirimkan pesan dengan penerima pesan membuat proses komunikasi menjadi lancer dan sukses. Komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari pengirim (komunikator) kepada penerima (komunikan) melalui suatu medium dan nantinya akan menghasilkan umpan balik (feedback). Dalam hubungan masyarakat dan periklanan, di dalam periklanan, seorang sarjana komunikasi dapat membantu perusahaan untuk memperkenalkan suatu produk dengan strategi yang tepat.