Minggu, 13 Maret 2011

☺ SIMBOL dan ARSITEKTUR ☺-Oleh : Eduard Tjahjadi, Ir. Dipl Kapita

Simbol dan Arsitektur
Symbol :
Etymology:
symbolum (Latin)
symbolon σύμβολον (Greek )

objek, gambar, tulisan, suara, atau tanda tertentu yang mewakili sesuatu yang lain oleh asosiasi, kemiripan, atau konvensi.

Symbol :
·         merupakan salah satu cara manusia mengekspresikan sesuatu yang telah berlangsung disemua kebudayaan sepanjang waktu.
·         mencerminkan intelektualitas, emosi dan spririt manusia
·         memungkinkan terjadinya sebagian besar hubungan komunikasi manusia dalam bentuk tertulis maupun verbal, gambar ataupun isyarat
·         merupakan bahasa universal lintas budaya dan zaman.

Kenneth Burke described homo sapien as
"symbolusing, symbol making, and [a] symbol
misusing animal"
Arsitektur
Architectura – Latin
arkitekton, ὰρχιτεκτονική – arkhitektonike – Greek
artinya :
kepala atau pemimpin dan pembangun atau tukang kayu (Τεκτονική)

adalah :
seni dan ilmu merancang bangunan dan struktur fisik lainnya.

Arsitektur, dalam definisi yang lebih luas :
meliputi semua kegiatan desain :
• dari level mikro (desain bangunan atau bangun-bangunan, kompleks bangunan, desain furnitur).
• ke tingkat makro (desain perkotaan: kawasan, bagian kota, arsitektur lansekap) saat ini, arsitektur dapat merujuk kepada aktivitas merancang sistem apapun dan sering digunakan dalam dunia TI.
                                                       
Karya arsitektur sering dianggap sebagai :
·         karya seni
·         simbol politik dan budaya
Sejarah peradaban manusia sering diidentikkan dengan karya arsitektur yang masih ada sebagai bagian perjalanan peradaban manusia itu sendiri.


Karya arsitektur sering dianggap sebagai :
karya seni
simbol politik dan budaya
Sejarah peradaban manusia sering diidentikkan dengan karya arsitektur yang masih ada sebagai bagian perjalanan peradaban manusia itu sendiri.


Arsitektur lahir dari dinamika antara :
Kebutuhan      ><      Cara
Tempat                       bahan bangunan
Tinggal                        teknologi
Keamanan                  keterampilan yang tersedia
ibadah, dll            

Arsitektur sebagai tanda atau komunikasi
Uraian sederhana berikut preseden, diharapkan dapat membantu memperjelas kualitas penting arsitektur sebagai tanda atau komunikasi.

Vitruvius, arsitek Roma pada awal abad ke1 Masehi berpendapat, bangunan yang baik harus memenuhi tiga prinsip (De architectura) :
firmitatis utilitatis venustatis
daya tahan berdiri kokoh dan tetap dalam kondisi baik
utility bermanfaat dan berfungsi dengan baik bagi orangorang yang menggunakannya
keindahan menyenangkan orang dan meningkatkan semangat mereka dalam banyak peradaban kuno, arsitektur dan urbanisme mencerminkan keterlibatan konstan dengan yang ilahi dan supernatural.

Budaya tradisional melibatkan faktor-faktor yang bersifat :
fisik
nonfisik 
§  khususnya bersifat simbolik
§  Simbolsimbol digunakan untuk mengkomunikasikan makna susunan tertentu.


KRATON NGAYOGYAKARTA HADININGGRAT
pusat yang secara simbolis menyatu dengan lingkungannya dan menghubungkan secara vertical
·         mikrokokosmos (yang tampak) -- yang tertinggi dari rakyatnya.
·         makrokosmos (yang tidak tampak) -- yang berhubungan dengan hal-hal diluar fisik.

Keraton Jogya
Simbolisme di dalam penataan kota Yogyakarta
Keraton didampingi oleh :
 dua alun-alun
 sebuah menara (tugu) di utara
 sebuah panggung Krapyak diselatan
 sebagai gabungan kehidupan mikrokosmos dengan kehidupan makrokosmos

CANDI BOROBUDUR

Berbentuk punden berundak, yang terdiri dari:

·         enam tingkat berbentuk bujur sangkar
·         tiga tingkat berbentuk bundar melingkar
·          sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Dan beberapa stupa tersebar di semua tingkat-tingkatannya
sepuluh tingkat menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana, yakni menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkanKamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kamaatau "nafsu rendah".
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakanRupadhatu, yang mempresentasi dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk.
Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas.
Pada bagian Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud).
Denah lantai berbentuk lingkaran.
Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.
Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi.
Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang.
Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha
Susunan Kota
Susunan Kota
Contoh dari Afrika Utara:
Kairo, Mesir
 sistem jaringan disusun secara organis

kota-kota di Timur Tengah tidak beraturan karena terbentuk dari kelompok-kelompok kecil yang tumbuh sesuai dengan kebutuhan mereka, tidak terencana dan belum didukung kemajuan teknologi.

Kota-kota di Timur Tengah mempunyai suatu struktur yang bertentangan dengan bentuk-bentuk kota di Amerika Serikat
Organisasi kota-kota Muslim dan Yahudi lebih :
• membatasi dan mengendalikan perilaku, dengan cara membatasi mobilitas, daripada meningkatkan pergerakan dan perhubungan lalu lintas
• Kota-kotanya memiliki sejumlah besar distrik yang spesifik dalam hal etnik, religius, ataupun fungsi

Amerika Utara
contoh dari Amerika Utara:
Washington, Amerika Serikat.
• sistem jaringan ini disusun secara teknis (beraturan)
• nilai tertinggi ditempatkan pada mobilitas dan fieksibilitas
Amos Rapoport,

§  Simbol dan Arsitektur
Karya arsitektur sebagai simbol
 kekuasaan
 politik
 kebangkitan/kejayaan kebangsaan
 ekonomi
 demokrasi
 kemajuan teknologi
 sustainability approach


Arsitektur Palace of Versailles memberikan suatu jarak untuk sampai ke istananya. Trik ini digunakan untuk memberikan simbol kekuasaan.


 gerbang kemenangan (Arc de triomphe) menghormati mereka yang berjuang untuk Perancis, terutama selama Perang Napoleon.
 di bagian dalam dan bagian atas busur ada semua nama-nama jenderal dan nama perang yang terjadi
 Monumen itu dirancang oleh Jean Chalgrin pada tahun 1806

Pawai kemenangan terkenal masa lalu atau di bawah Arc :
 Jerman pada tahun 1871
 Perancis pada tahun 1918
 Jerman pada tahun 1940
 Perancis dan Sekutu pada tahun 1944 dan 1945







Di atas gerbang adalah Quadriga, sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda didorong oleh Victoria, dewi Romawi kemenangan
Desain Gerbang didasarkan pada Propylaea, pintu gerbang Acropolis di Athena, Yunani dan konsisten dengan sejarah Berlin klasisisme arsitektur (pertama, Baroque, dan kemudian neo-Palladian).
Gerbang pertama "Athena di atas Sungai Spree" oleh arsitek Gotthard Carl von Langhans.
Quadriga ibukota itu diukir oleh Johann Gottfried Schadow

1806
Prusia kalah pertempuran Jena-Auerstedt
Quadriga dibawa Napoleon ke Paris
1814
Napoleon kalah di Prusia dan pendudukan Paris oleh Jenderal Ernst von Pfuel
Quadriga dikembalikan ke Berlin, dilengkapi dengan simbol baru kekuasaan Prusia, Iron Cross
Gerbang tengah boleh dilewati hanya oleh keluarga kerajaan, serta anggota keluarga Pfuel (1814-1919).



JAKARTA
Arsitektur di Jakarta, antara lain:
RUNTUHNYA KEJAYAAN
karya-karya Arsitektur tetap dipertahankan sebagai simbol dari runtuhnya kejayaan suatu kekuasaan pada masanya, seperti yang terdapat di bawah ini:
Kaiser William Memorial Church (Kaiser-Wilhelm-Gedächtniskirche), Berlindibangun 1890 rusak parah akibat bom udara pada PD II, tetap dipertahankan sebagai simbol untuk mengingatkan kita atas kekejaman yang dilakukan manusia yaitu perang.

untuk itu, bangunan ini tetap dipertahankan dan kemudian dibangun sebuah gereja disisinya tetapi dalam bentuk yang lebih sederhana, agar perhatian orang tetap terarah kepada Kaiser William Memorial Church (Kaiser-Wilhelm-Gedächtniskirche).

Bom atom yang jatuh di Nagasaki dan Hirosima (6 dan 7 Agustus 1945) di Jepang merupakan suatu bukti kekejaman manusia. Bom tersebut telah membumi hanguskan dua kota tersebut.

Di kota Hiroshima, terdapat satu bangunan yang tetap bertahan akibat bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. bangunan ini sampai sekarang tetap dipertahanan sebagai monumen untuk memperingati jatuhnya bom tersebut dan dikenal dengan nama The A-Bomb Dome, Hiroshima. Sedangkan di Nagasaki terdapat titik sentral jatuhnya bom atom tersebut, dan kemudian diabadikan oleh pemerintah Jepang -- Nagasaki Hypocentre.
Selanjutnya, Jewish Museum, Berlin, merupakan salah satu karya arsitektur yang dibangun untuk mengingatkan kita akan kekejaman masa pemerintahan Hitler.

Bentuk bangunan yang tidak biasa (diambil dari bentuk Star of David), bentuk dinding yang adalah pilar-pilar tanpa atap menandakan bahwa penduduk Yunani waktu itu sangat terkungkung. Tubuh mereka berada di dalam bangunan sedangkan mereka tetap dapat melihat ke luar yang disimbolkan oleh jendela-jendela di musium ini.

Selain itu, tangga yang berakhir pada tembok, dapat kita asumsikan sebagai tanpa jalan keluar dan tidak adanya kebebasan.





Minggu, 06 Maret 2011

☺SEMIOTIK☺-Oleh: Kurnia Setiawan

Semiotik berasal dari bahasa Yunani ---> seme ; semeiotikos, penafsir tanda, yang berarti “sign.
Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti bahasa, sinyal, kode, dll. Tanda-tanda adalah basis dari seluruh komunikasi. Tanda ataupun simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengkomunikasikan informasi. Manusia dengan perantaraan tanda – tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya.
Tanda pada masa itu masih bermakna sesuatu hal yang menunjuk pada adanya hal lain. Secara terminologis,  semiotik adalah cabang ilmu yang berurusan dengan dengan pengkajian tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengan tanda, seperti sistem tanda dan proses yang berlaku bagi tanda (van Zoest, 1993). Semiotik merupakan ilmu yang mempelajari sederetan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Semiotik merupakan cabang ilmu yang relatif masih baru. Penggunaan tanda dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya dipelajari secara lebih sistematis pada abad kedua puluh.

Perintis awal semiotika adalah Plato yang memeriksa asal muasal bahasa. Aristoteles mencermati kata benda dalam bukunya “Poetics dan On Interpretation”. Terdapat perbedaan mendasar antara tanda alami (natural) dan tanda yang disepakati (konvensional), yaitu jika tanda alami, berarti tanda dibawah sadar seperti mendung. Jika tanda konvensional merupakan gejala, contoh nya symptom, seperti tidak berarti menggelengkan kepala. Itu sudah merupakan tanda yang sudah disepakati.

Beberapa Tokoh Semiotik :
  • St. Agustinus (354 – 430)

Mengembangkan teori mengenai signa data (tanda konvensional). Persoalan tanda menjadi objek pemikiran filosofis. Studi dibatasi hubungan kata fisik dengan kata mental.




  •     William of Ockham, OFM (1285 – 1349)
    

        Mempertajam studi tanda. Tanda dikategorikan berdasarkan sifatnya. Apakah ia di alam mental dan bersifat pribadi, ataukah diucapkan atau ditulis untuk publik.



·       John Locke (1632 – 1740)
Melihat eksplorasi mengenai tanda akan mengarah pada terbentuknya basis logika baru. Hal ini tertuang dalam karyanya “An Essay Concerning Human Understanding (1690)”.







Ferdinand de Saussure &  Charles Sanders Peirce


Para ahli semiotik modern mengatakan bahwa  analisis semiotik modern telah di warnai dengan dua nama yaitu seorang linguis yang berasal dari Swiss bernama Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan seorang filsuf Amerika yang bernama Charles Sanders Peirce (1839 -1914). Peirce menyebut  model sistem analisisnya dengan semiotik dan istilah tersebut telah menjadi istilah yang dominan digunakan untuk ilmu tentang tanda. Ia mengembangkan teori tanda yang dibentuk oleh tiga sisi yaitu :
·   Representamen (tanda)
·   Objek (sesuatu yang dirujuk oleh tanda)
·   Interpretan (efek yang ditimbulkan; hasil)


Semiologi de Saussure berbeda dengan semiotik Peirce dalam beberapa hal, tetapi keduanya berfokus pada tanda. Seperti telah disebut-kan di depan bahwa de Saussure menerbit -kan bukunya yang berjudul A Course in General Linguistics  (1913). Dalam buku itu de Saussure memba -yangkan suatu ilmu yang mempelajari tanda-tanda dalam masyarakat. Ia juga menjelaskan konsep-konsep yang dikenal dengan dikotomi linguistik. Salah satu dikotomi itu adalah signifier dan signified (penanda dan petanda). Ia menulis “The linguistics sign unites not a thing and a name,but a concept and a sound image a sign”. Kombinasi antara konsep dan citra bunyi adalah tanda (sign).  Jadi de Saussure mem-bagi tanda menjadi dua yaitu komponen, signifier (atau citra bunyi) dan signified (atau konsep) dan dikatakannya bahwa hubungan antara keduanya adalah arbitrer.

Semiologi didasarkan pada anggapan bahwa selama perbuatan dan tingkah laku manusia membawa makna atau selama berfung si sebagai tanda, harus ada di belakang sistem pembedaan dan konvensi yang memungkinkan makna itu. Di mana ada tanda, di sana ada sistem (de Saussure, 1988). Sekalipun hanyalah merupakan salah satu cabangnya, namun linguistik dapat berperan sebagai model untuk semiologi. Penyebabnya terletak pada ciri arbiter dan konvensional yang dimiliki tanda bahasa. Tanda -tanda bukan bahasa pun dapat dipandang sebagai fenomena arbiter dan konvensional seperti mode, upacara, kepercayaan dan lain -lainya.
Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah idea tau petanda (signified). Bagi de Saussure, bahasa terdiri atas sejumlah tanda yang terdapat dalam suatu jaringan system dan dapat disusun dalam sejumlah struktur. Setiap tanda dalam jaringan itu memiliki dua sisi yang tak terpisahkan  seperti dua halaman pada selembar kertas. Tidak ada hubungan langsung dan alamiah antara penanda ( signifier) dan petanda (signified). Hubungan ini disebut hubungan yang arbitrer. Hal yang mengabsahkan hubung an itu adalah konvensi. Oleh sebab itu bahasa sebagai sebuah sistem dapat dikatakan lahir dari kemufakatan (konvensi) di atas dasar yang tak beralasan (unreasonable) atau sewenang-wenang.
Petanda selalu akan lepas dar i jang-kauan dan konsekuensinya, makna pun tidak pernah dapat sepenuhnya ditangkap, karena ia berserakan seperti jigsaw puzzles disepanjang rantai penanda lain yang pernah hadir sebelumnya dan akan hadir sesudahnya, baik dalam tataran paradigmatik maupun sintagmatik. Ini dimung-kinkan karena operasi sebuah sistem bahasa menurut de Saussure dilandasi oleh prinsip negative difference, yakni bahwa makna sebuah tanda tidak diperoleh melalui jawaban atas pertanyaan what is it, melainkan melalui penemuan akan what is not.
Dengan demikian ilmu yang mempelajari tentang tanda-tanda adalah semiotik. Semiotics is concerned with everything that can be taken as a sign. Semiotics adalah studi yang tidak hanya merujuk pada tanda (signs) dalam percakapan sehari -hari,  tetapi juga  segala  sesuatu yang merujuk pada bentuk-bentuk lain seperti words, images, sounds, gesture , dan objects.  Sementara de Saussure me-nyebut ilmu ini dengan semiologi yakni sebuah studi tentang aturan tanda -tandasebagai bagian dari kehidupan sosial.
Charles Sanders Peirce (1839 - 1914)

 Dalam perkembangan terakhir kajian mengenai tanda dalam masyarakat didominasi karya filsuf Amerika. Charles Sanders Peirce (1839 - 1914). Kajian Peirce jauh lebih terperinci dari pada tulisan de Saussure yang lebih programatis. Oleh karena itu istilah semiotika lebih lazim dalam dunia Anglo-Sakson, dan istilah semiologi lebih dikenal di Eropa Kontinental. Siapakah Peirce?  Charles Sanders Peirce adalah seorang filsuf Amerika yang paling orisinal dan multidimensioanl. Bagi teman -teman sejamannya  ia terlalu orisional. Di alam kehidupan bermasyarakat, teman-temannya membiarkannya dalam kesusahan dan meninggal dalam kemiskin-an Perhatian untuk karya-karyanya tidak banyak diberikan oleh teman -temannya. Peirce banyak menulis, tetapi kebanyakan tulisannya bersifat pendahuluan, sketsa dan sebagian besar tidak diterbitkan sampai ajalnya. Peirce selain seorang filsuf juga seorang ahli logika dan Peirce memahami bagaimana manusia itu bernalar. Peirce akhirnya sampai pada keyakinan bahwa manusia ber pikir dalam tanda. Maka diciptakannyalah ilmu tanda yang ia sebut semiotik. Semiotika baginya sinonim dengan logika.
Secara harafiah ia mengatakan “Kita hanya berpikir dalam tanda”. Di samping itu ia juga melihat tanda sebagai unsur dalam komunikasi. Semakin lama ia semakin yakin bahwa  segala sesuatu adalah tanda artinya setidaknya sesuai cara eksistensi dari apa yang mungkin (van Zoest, 1993:10).  Dalam analisis semiotiknya Peirce membagi tanda berdasarkan sifat ground menjadi tiga kelompok yakni qualisigns, sinsigns dan legisigns.
-       Qualisigns adalah tanda-tanda yang merupakan tanda berdasarkan suatu sifat. Contoh, sifat merah merupakan qualisgins karena merupakan tanda pada bidang yang mungkin.
-       Sinsigns adalah tanda yang merupakan tanda atas dasar tampiln ya dalam kenyataan. Semua pernyataan individual yang tidak dilembagakan merupakan sinsigns. Sebuah jeritan bisa berarti kesakitan, keheranan atau kegembiraan.
-       Legisigns  adalah tanda-tanda yang merupakan tanda atas dasar suatu peraturan yang berlaku umum, sebuah konvensi, sebuah kode. Tanda lalu lintas adalah sebuah legisigns. Begitu juga dengan mengangguk, mengerutkan alis, berjabat tangan dan sebagainya.
Untuk tanda dan denotatumnya Peirce memfokuskan diri pada tiga aspek tanda yaitu ikonik, indeks dan simbol
-       Ikonik adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang serupa dengan bentuk obyeknya (terlihat pada gambar atau lukisan).
-       Indeks adalah sesuatu yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang mengisyaratkan petandanya.
-   Simbol adalah penanda yang melaksanakan fungsi sebagai penanda yang oleh kaidah secara kovensi telah lazim digunakan dalam masyarakat. Tabel berikut menunjukkan hubungan ketiganya.


Model tanda yang dikemukakan Peirce adalah trikotomis atau triadik, dan tidak memiliki cirri-ciri struktural sama sekali (Hoed, 2002). Prinsip dasarnya adalah bahwa tanda bersifat reprsentatif yaitu tanda adalah sesuatu yang mewakili sesuatu yang lain ( something that represent something else). Proses pemaknaan tanda pada Peirce mengikuti hubungan antara tiga titik yaitu representamen (R) - Object (O) - Interpretant (I). R adalah bagian tanda yang dapat dipersepsi secara fisik atau mental, yang merujuk pada sesuatu yang diwakili olehnya (O).  Kemudian  adalah bagian dari proses yang menafsirkan hubungan antara  R dan O. Oleh karena itu bagi Pierce, tanda tidak hanya representatif, tetapi juga inter -pretattif. Teori Peirce tentang tanda  memperlihatkan pemaknaan tanda seagai suatu proses kognitif dan bukan sebuah struktur. Proses seperti itu disebut semiosis. Seperti terlihat pada tabel di atas bahwa Peirce membedakan tanda menjadi tiga yaitu indeks, ikon dan simbol.
Peirce juga mengemukakan bahwa pemaknaan suatu tanda bertahap -tahap. Ada tahap kepertamaan (firstness) yakni saat tanda dikenali pada tahap awal secara prinsip saja. Firstness adalah keberadaan seperti apa adanya tanpa menunjuk ke sesuatu yang lain , keberadaan dari kemungkinan yang potensial. Kemudian tahap ‘kekeduaan’ ( secondness) saat tanda dimaknai secara individual, dan kemudian ‘keketigaan’ ( thirdness) saat tanda dimaknai secara tetap sebagai kovensi. Konsep tiga tahap ini penting untuk memaham i bahwa dalam suatu kebudaya -an kadar pemahaman tanda tidak sama pada semua anggota kebudayaan tersebut.

Roland Barthes (1915-1980) 

Salah seorang sarjana yang secara konservatif menjabarkan teori De de Saussure ialah Roland Barthes (1915-1980). Ia menerapkan model De de Saussure dalam penelitiannya tentang karya-karya sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes komponen-komponen tanda penanda - petanda terdapat juga pada tanda -tanda bukan bahasa antara lain terdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem citra dan kepercayaan yang dibentuk masyarakat untuk mempertahankan dan menonjolkan identitasnya. Ia berpandangan bahwa sebuah system tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.
Selanjutnya Barthes (1957 dalam de Saussure) menggunakan teori significant-signifie yang dikembangkan menjadi teori tentang metabahasa dan konotasi. Istilah signifiant menjadi ekspresi (E) dan signifie menjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) tertentu, sehingga membentuk tanda ( sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda. Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama. Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pe -maknaan awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut sistem primer. Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa.  Sistem sekunder ke arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi. Konsep konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya. Dalam kaitan dengan pemakai tanda, kita juga dapat memasukkan perasaan sebagai (aspek emotif) sebagai salah satu faktor yang membentuk konotasi. Model Barthes demikian juga model De de Saussure tidak hanya diterapkan pada analisis bahasa sebagai salah satu aspek kebudayaan, tetapi juga dapat digunakan untuk menganalisis unsur -unsur kebu-dayaan.
Semiotik yang dikembangkan Barthes juga disebut dengan semiotika konotatif. Terapannya juga pada karya sastra tidak sekadar membatasi diri pada analisis secara semios is, tetapi juga menerapkan pendekatan konotatif pada berbagai gejala kemasyarakatan. Di dalam karya sastra ia mencari arti ’kedua’ yang tersembunyi dari gejala struktur tertentu (van Zoest, 1993).

Umberto Eco (1932 - tidak tercatat)
Seorang sejarahwan, penulis esai, novelis dan semiotisi dari Italia. Menurut Beliau, tanda dapat digunakan menyatakan kebenaran, sekaligus juga untuk mengatakan kebohongan.